Esau DolaME, anak adat Amungme dari Timika. (papuanewsonline.com)
PAPUA - Polemik antara anggota DPD RI Paul Vinsen Mayor dan unsur MRP Papua Agustinus Anggaibak terus menjadi perhatian publik.
Perdebatan tersebut dinilai bukan sekadar perbedaan pandangan politik, melainkan mencerminkan tarik-menarik kepentingan yang lebih luas.
Isu ini memperlihatkan dinamika antara representasi formal negara dengan suara kultural masyarakat adat di Tanah Papua.
Baca juga: Mobil Pick Up Bermuatan BBM Terbakar di Hiripau, Kronologi Masih Diselidiki
Sorotan juga datang dari tokoh muda adat Amungme asal Timika, Esau DolaME.
Ia menilai persoalan ini menyangkut marwah Orang Asli Papua yang tidak bisa dipandang sebagai perdebatan biasa.
Menurutnya, Majelis Rakyat Papua memiliki posisi strategis sebagai representasi kultural masyarakat adat.
Baca juga: Pansus Moker Freeport Soroti Dugaan Pelanggaran Pidana Ketenagakerjaan
Lembaga tersebut berperan menjaga nilai, identitas, serta hak-hak dasar Orang Asli Papua.
Esau menegaskan bahwa dalam polemik ini, keberpihakan terhadap suara adat harus jelas.
Ia menyebut suara adat tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan politik semata.
Baca juga: Krisis Kepemimpinan di Nduga Disorot, Dana Tertunda dan Kepercayaan Publik Tergerus
Dalam pandangannya, apa yang disampaikan Agustinus Anggaibak mencerminkan aspirasi masyarakat akar rumput.
Aspirasi tersebut dinilai lahir dari realitas yang dihadapi masyarakat adat sehari-hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Papuanewsonline.com