Minggu, 26 JULI 2026 • 19:56 WIB

Mata Pencaharian Suku Biak Bertumpu pada Laut

Author

Warga Suku Biak melakukan aktivitas menangkap ikan di perairan Pulau Biak, Papua. (Ist)

PAPUA – Laut bukan sekadar bentang alam bagi masyarakat Suku Biak, tetapi menjadi sumber kehidupan yang telah menopang perekonomian keluarga selama ratusan tahun. Sebagai salah satu suku asli Papua yang mendiami Pulau Biak dan wilayah sekitarnya, masyarakat Biak dikenal memiliki kemampuan mengelola sumber daya laut sekaligus menjaga keseimbangan alam melalui kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Suku Biak merupakan salah satu kelompok etnis terbesar di wilayah pesisir utara Papua. Kedekatan mereka dengan laut membentuk pola hidup, budaya, hingga mata pencaharian yang sebagian besar bergantung pada hasil perikanan dan sumber daya pesisir.

Mayoritas masyarakat Biak bekerja sebagai nelayan tradisional. Mereka menangkap berbagai jenis ikan, seperti tuna, cakalang, kakap, kerapu, hingga ikan karang lainnya menggunakan perahu kecil maupun perahu bermotor. Selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, hasil tangkapan juga dipasarkan ke berbagai daerah sehingga menjadi sumber pendapatan utama masyarakat.

Tidak hanya menangkap ikan, sebagian warga juga mencari hasil laut lainnya seperti cumi-cumi, gurita, kerang, teripang, dan rumput laut. Komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan menjadi salah satu penopang ekonomi rumah tangga di wilayah pesisir Biak.

Di samping sektor kelautan, masyarakat Biak juga mengembangkan usaha pertanian. Berbagai tanaman pangan seperti ubi kayu, ubi jalar, keladi, pisang, dan sayur-sayuran ditanam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara tanaman kelapa, pala, pinang, dan buah-buahan tropis juga menjadi komoditas yang memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga.

Kearifan lokal masyarakat Biak tercermin dalam cara mereka mengelola sumber daya alam. Pemanfaatan laut dan hutan dilakukan secara bijaksana dengan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem. Pengetahuan mengenai musim melaut, lokasi penangkapan ikan, hingga cara menjaga kelestarian alam diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari tradisi masyarakat adat.

Baca juga: Tiga Wisata Agro Di Papua Yang Cocok Untuk Liburan Sambil Belajar

Selain bertani dan melaut, sebagian masyarakat Biak juga mengembangkan kerajinan tangan berbahan alami. Anyaman dari daun pandan, ukiran kayu khas Papua, serta berbagai hasil kerajinan tradisional menjadi produk budaya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Perempuan Biak memiliki peran penting dalam mendukung ekonomi keluarga. Selain mengolah hasil pertanian dan hasil laut, mereka juga aktif membuat anyaman, mengolah makanan tradisional, hingga menjual hasil produksi keluarga di pasar-pasar lokal.

Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pariwisata juga mulai memberikan peluang ekonomi baru bagi masyarakat Biak. Keindahan pantai, kekayaan bawah laut, situs sejarah Perang Dunia II, hingga budaya lokal menjadi daya tarik wisata yang membuka kesempatan usaha di bidang kuliner, penginapan, jasa transportasi, dan pemandu wisata.

Meski demikian, perubahan zaman membawa tantangan tersendiri bagi masyarakat adat Biak. Modernisasi, perubahan pola konsumsi, serta meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam menuntut masyarakat untuk terus beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan leluhur.

Pelestarian bahasa, adat istiadat, hingga pengetahuan tradisional mengenai pengelolaan alam menjadi bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat Biak. Berbagai upaya juga dilakukan pemerintah, lembaga adat, dan masyarakat melalui pendidikan budaya, festival adat, serta pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal.

Pengembangan sektor perikanan yang berkelanjutan, peningkatan kualitas hasil pertanian, serta pemberdayaan pelaku usaha lokal diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Hal ini menjadi langkah penting agar sumber daya alam tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Selain memiliki nilai ekonomi, laut bagi masyarakat Biak juga memiliki makna sosial dan budaya yang mendalam. Berbagai tradisi adat, ritual syukur, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat tidak terlepas dari hubungan mereka dengan laut sebagai sumber kehidupan.

Keunikan mata pencaharian masyarakat Biak menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya dan lingkungan. Warisan leluhur yang mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan.

Sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, Suku Biak membuktikan bahwa kehidupan masyarakat adat tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menawarkan contoh nyata bagaimana sumber daya alam dapat dikelola secara arif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU