Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 26 JULI 2026 • 20:46 WIB

Suku Biak Menjaga Warisan Tiga Pulau Eksotis di Papua

Suku Biak Menjaga Warisan Tiga Pulau Eksotis di PapuaMasyarakat Suku Biak menampilkan tarian adat di Kabupaten Biak Numfor, Papua. (Ist)

PAPUA - Suku Biak merupakan salah satu suku asli Papua yang memiliki sejarah panjang, budaya yang kaya, serta tradisi maritim yang telah diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat suku ini mendiami wilayah utara Teluk Cenderawasih, tepatnya di Pulau Biak, Pulau Supiori, dan Pulau Numfor.

Keberadaan Suku Biak menjadi bagian penting dari keberagaman budaya di Tanah Papua. Selain dikenal sebagai masyarakat pesisir yang memiliki kemampuan melaut, mereka juga memiliki adat istiadat, bahasa, serta sistem kepemimpinan tradisional yang masih dijaga hingga sekarang.

Sejarah penamaan Biak sendiri telah dikenal sejak masa kolonial Belanda. Berdasarkan cerita turun-temurun masyarakat setempat, nama "Biak" berasal dari ungkapan v'iak wer atau v'iak yang berarti "ia muncul lagi". Ungkapan tersebut muncul ketika sekelompok warga dari klan Burdam meninggalkan Pulau Warmambo—nama lama Pulau Biak—namun masih dapat melihat pulau tersebut ketika menoleh ke belakang.

Seiring perkembangan bahasa, pengucapan v'iak kemudian berubah menjadi "Biak" dan digunakan sebagai nama pulau maupun masyarakat yang menetap di kawasan tersebut.

Wilayah yang dihuni Suku Biak meliputi tiga pulau utama, yakni Biak, Supiori, dan Numfor. Ketiga pulau tersebut berada di kawasan utara Papua dan terkenal memiliki keindahan pantai, laut yang jernih, serta kekayaan bawah laut yang menjadi daya tarik wisata.

Sebagian besar masyarakat Biak sejak dahulu menggantungkan kehidupan pada laut. Mereka dikenal sebagai nelayan andal, pelaut tangguh, sekaligus pedagang antarpulau yang mampu berlayar hingga berbagai wilayah di pesisir Papua dan Maluku. Kemampuan berlayar inilah yang membuat Suku Biak kerap dijuluki sebagai "Viking dari Papua."

Selain budaya maritim, masyarakat Biak juga memiliki sistem pemerintahan adat yang masih berfungsi dalam kehidupan sosial. Pemilihan kepala adat dilakukan melalui musyawarah Majelis Kankain Karkara Byak, sebuah lembaga adat yang memiliki kewenangan dalam menjaga nilai-nilai budaya masyarakat Biak.

Pemimpin adat yang terpilih akan menerima gelar Kawasa Biak, sebagai simbol kepemimpinan sekaligus tanggung jawab dalam menjaga persatuan masyarakat adat serta melestarikan tradisi leluhur.

Baca juga: Kota Jayapura Dijuluki Kota Seribu Pinang, Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Dalam kehidupan budaya, Suku Biak memiliki berbagai upacara adat yang masih dilaksanakan hingga kini. Salah satu yang paling dikenal adalah Upacara Wor, yaitu ritual adat yang melibatkan keluarga besar dari pihak suami maupun istri.

Upacara Wor memiliki makna mendalam sebagai bentuk doa dan permohonan perlindungan kepada Sang Pencipta, khususnya bagi anak-anak dan keluarga. Tradisi ini juga menjadi media mempererat hubungan kekeluargaan sekaligus menjaga nilai kebersamaan dalam masyarakat Biak.

Bagi masyarakat Biak, Wor bukan sekadar seremoni adat, melainkan simbol hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama. Nilai-nilai tersebut diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas budaya yang tidak terpisahkan.

Di samping ritual adat, masyarakat Biak juga dikenal memiliki seni budaya yang kaya, seperti tarian tradisional, musik daerah, ukiran khas Papua, hingga berbagai kerajinan tangan yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir.

Bahasa Biak pun masih digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari di sejumlah wilayah, meskipun penggunaan bahasa Indonesia semakin meluas. Berbagai upaya pelestarian bahasa daerah terus dilakukan agar warisan budaya tersebut tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Suku Biak Menjaga Warisan Tiga Pulau Eksotis di Papua

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!