Tampak ikan mati mengapung (Ist)
PAPUA - Puluhan hingga ratusan ikan ditemukan mati mengapung di Sungai Klafdalim dan Sungai Klasoh, Distrik Moi Sigin, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Sabtu (14/2/2026). Temuan ini mengejutkan warga setempat karena jumlahnya dinilai jauh lebih banyak dibanding kejadian sebelumnya.
Peristiwa tersebut didokumentasikan jurnalis bersama pemuda adat Moi Sigin dan warga Kampung Klafdalim saat menyusuri aliran sungai. Di sejumlah titik, ikan terlihat mengapung dalam kondisi membusuk, sementara beberapa lainnya masih hidup namun bergerak tidak normal di permukaan air.
Pemuda adat setempat, Jimmy Nibra, menyebut fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Ia mengatakan gejala kematian ikan sebenarnya sudah muncul sejak Desember 2025, namun saat itu belum dianggap sebagai ancaman serius.
Baca juga: Smart Air Ditembak, 13 Lubang Peluru Bersarang di Badan Pesawat
“Waktu itu kami pikir mungkin hanya dampak racun ikan yang dibuang oknum masyarakat, jadi belum terlalu dicurigai,” ujarnya.
Namun situasi berubah ketika kejadian serupa terus berulang sepanjang Januari hingga pertengahan Februari 2026. Pada 11 Februari, jumlah ikan mati meningkat drastis dan menyebar di beberapa titik aliran sungai.
Dalam patroli lapangan, warga menemukan sekitar 50 ekor ikan mati di satu titik dan jumlah yang hampir sama di titik lainnya. Di tiga lokasi berbeda, ditemukan tambahan sekitar 15 ekor ikan. Total pada hari itu lebih dari 115 ekor ikan ditemukan mati.
Jenis ikan yang terdampak pun beragam, di antaranya ikan bulana, ikan sembilan hitam, ikan sembilan putih, dan ikan mulutikus. Ikan-ikan tersebut merupakan sumber protein utama bagi masyarakat adat yang menggantungkan hidup pada sungai.
Baca juga: Ngabuburit di Jembatan Merah Jayapura
Jimmy menegaskan bahwa kematian berbagai spesies sekaligus mengindikasikan adanya dampak lingkungan yang luas. Menurutnya, jika hanya satu jenis ikan yang terdampak, kemungkinan penyebabnya berbeda, tetapi kematian massal lintas spesies menimbulkan kecurigaan pencemaran serius.
Pantauan di lapangan juga menunjukkan perubahan kondisi air sungai. Sejumlah warga mengaku warna air menjadi lebih keruh dan kadang mengeluarkan bau menyengat, terutama pada pagi dan sore hari.
Selain itu, ditemukan adanya perkebunan sawit yang berada sangat dekat dengan badan sungai. Di beberapa titik, jarak antara tanaman sawit dan tepian sungai diperkirakan kurang dari 20 meter, bahkan nyaris tanpa zona penyangga.
“Kalau memang aturan mengharuskan ada jarak aman dari sungai, kenapa di sini sawit bisa tanam sampai hampir ke bibir kali? Ini harus dijelaskan secara terbuka,” tegas Jimmy.
Baca juga: Doa berbuka Puasa: Bacaan Lengkap Arab, Latin, dan Maknanya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: