Sejumlah senjata api dan magazin yang diklaim dirampas oleh TPNPB (Ist)
PAPUA - Situasi keamanan di wilayah Papua Tengah kembali memanas setelah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), sayap militer dari Organisasi Papua Merdeka, mengklaim telah melakukan penyerangan terhadap sebuah pos militer Indonesia di Kabupaten Nabire.
Insiden tersebut disebut terjadi di Jalan Musairo, Kampung Biha, Distrik Makimi, pada Sabtu, 21 Februari 2026. Dalam pernyataan resminya, TPNPB menyebut operasi itu sebagai bagian dari aksi perlawanan terhadap aparat keamanan Indonesia.
Kelompok bersenjata itu mengklaim berhasil merampas dua unit senjata api jenis SS1, empat magazin berisi sekitar 120 butir munisi, serta satu unit pistol G2 Combat lengkap dengan amunisinya. Seluruh senjata tersebut disebut disita dari pos militer yang menjadi target serangan.
Selain perampasan senjata, TPNPB juga menyatakan dua aparat militer Indonesia tewas dalam insiden tersebut. Klaim ini disampaikan tanpa disertai rincian identitas korban maupun keterangan tambahan terkait kronologi detail kejadian.
Baca juga: KPU Waropen Digugat, Kuasa Hukum Tuding Wanprestasi Kontrak Rp869 Juta
TPNPB turut mengklaim telah membakar satu unit pos militer dalam serangan itu. Tak hanya itu, satu unit mobil jenis Toyota Hilux milik PT Kristalin Eka Lestari yang disebut tengah melakukan aktivitas pertambangan di wilayah tersebut juga dilaporkan menjadi sasaran tembakan.
Mayor Aibon Kogoya, yang disebut sebagai komandan operasi dalam aksi tersebut, menegaskan bahwa serangan itu merupakan bagian dari perjuangan politik kelompoknya. Ia menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap kehadiran aparat keamanan di wilayah yang mereka klaim sebagai zona konflik.
Dalam pernyataan terpisah, juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, juga mengeluarkan imbauan keras kepada warga pendatang yang terlibat dalam aktivitas pertambangan emas ilegal di sejumlah daerah di Papua.
Wilayah yang disebut dalam pernyataan tersebut meliputi Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, Baiya Biru, Intan Jaya, hingga Manokwari. TPNPB meminta seluruh aktivitas penambangan emas ilegal di wilayah yang mereka sebut sebagai area operasi segera dihentikan.
“Seluruh penambangan emas ilegal di wilayah operasi TPNPB segera kosongkan. Kami tidak bertanggung jawab atas korban jiwa yang terjadi,” ujar Sebby Sambom dalam pernyataannya.
Baca juga: Pra Musrenbang RKPD 2027, Kwando: Bintuni Masih Daerah Tertinggal
Kelompok tersebut bahkan menyampaikan ancaman tegas terhadap pihak-pihak yang tetap bertahan di lokasi pertambangan. Mereka menyebut akan mengambil tindakan keras jika peringatan yang disampaikan tidak diindahkan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI maupun aparat keamanan terkait klaim perampasan senjata, pembakaran pos, maupun korban jiwa yang disampaikan TPNPB. Konfirmasi dari pihak berwenang masih terus diupayakan guna memastikan kebenaran informasi di lapangan.
Perkembangan situasi di Distrik Makimi dan sekitarnya kini menjadi perhatian, mengingat klaim serangan tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan keamanan di wilayah Papua Tengah yang dalam beberapa tahun terakhir kerap dilaporkan mengalami insiden bersenjata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: