Ternyata Papua Punya Filosofi Gotong Royong Unik, Dari Bakar Batu Hingga Tradisi Saling Menanggung Beban
PAPUA - Semangat gotong royong telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Papua. Meski setiap daerah memiliki bahasa, adat, dan budaya yang berbeda, nilai kebersamaan tetap menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan sosial di berbagai komunitas adat.
Di Tanah Papua, konsep gotong royong tidak hanya diwujudkan dalam kerja bersama, tetapi juga tercermin dalam berbagai istilah dan tradisi khas yang diwariskan secara turun-temurun oleh masing-masing suku.
Salah satu bentuk gotong royong yang dikenal luas berasal dari masyarakat Suku Maybrat di Papua Barat Daya melalui tradisi yang disebut Anu Beta Tubat.
Baca juga: Papua Kini Terbagi Enam Provinsi, Ternyata Jumlah Kabupaten Dan Kotanya Mencapai Angka Ini
Tradisi tersebut memiliki makna mendalam tentang kebersamaan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Filosofinya menggambarkan semangat seluruh anggota masyarakat untuk bersama-sama mengangkat beban yang sedang dihadapi seseorang.
Dalam praktiknya, masyarakat akan saling membantu ketika ada warga yang membutuhkan dukungan, mulai dari membuka lahan pertanian, membangun rumah, hingga memenuhi kebutuhan adat seperti pembayaran mas kawin.
Kebiasaan tersebut menjadi simbol kuat bahwa kehidupan masyarakat adat Papua tidak hanya bertumpu pada kemampuan individu, tetapi juga pada solidaritas kolektif yang terjalin erat dalam komunitas.
Baca juga: Deretan Kafe Live Music Ini Jadi Favorit Anak Muda Dan Wisatawan Papua
Di wilayah Sentani, Kabupaten Jayapura, semangat kebersamaan dikenal melalui istilah Helem Foi Kenambai Umbai yang memiliki makna kerja sama dan kolaborasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Konsep ini sering diwujudkan dalam berbagai kegiatan sosial maupun budaya yang melibatkan banyak pihak untuk mencapai tujuan bersama demi kepentingan masyarakat luas.
Nilai Helem Foi juga menjadi landasan dalam penyelenggaraan berbagai agenda budaya daerah, termasuk persiapan kegiatan besar yang melibatkan partisipasi aktif warga setempat.
Baca juga: Tiga Cafe Live Music Di Sorong Yang Selalu Ramai, Nomor Terakhir Jadi Favorit Penikmat Musik Akustik
Sementara itu, masyarakat Pegunungan Tengah Papua memiliki tradisi gotong royong yang sangat terkenal, yakni Bakar Batu. Tradisi ini tidak hanya dikenal sebagai cara memasak makanan secara tradisional, tetapi juga sebagai simbol persatuan dan kekeluargaan.
Pelaksanaan Bakar Batu melibatkan banyak orang, mulai dari pengumpulan kayu bakar, penyusunan batu, persiapan bahan makanan, hingga proses memasak yang dilakukan secara bersama-sama.
Tradisi tersebut umumnya digelar dalam berbagai momentum penting seperti perayaan adat, penyelesaian konflik, ungkapan rasa syukur, hingga penyambutan tamu kehormatan. Kebersamaan yang terbangun selama proses itu menjadi inti dari nilai sosial yang dijunjung tinggi masyarakat Papua.
Beragam istilah dan tradisi gotong royong tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Papua memiliki kearifan lokal yang kuat dalam menjaga persatuan, mempererat hubungan antarsesama, serta membangun kehidupan sosial yang harmonis di tengah keberagaman budaya yang dimiliki.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: