Senin, 29 JUNI 2026 • 13:54 WIB

Wapres Dorong Hilirisasi Sagu Asmat Berbasis Budaya Lokal

Author

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau kegiatan di Sekolah Lapang Sagu Keuskupan Agats, Kampung Yepem, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, Minggu (21/6/2026). (Ist)

PAPUA - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau Sekolah Lapang Sagu Keuskupan Agats di Kampung Yepem, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, Minggu (21/6/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat hilirisasi komoditas unggulan Papua sekaligus mendorong pengembangan pangan lokal berbasis potensi daerah.

Peninjauan dilakukan setelah Wapres melihat progres pembangunan Gereja Katedral Salib Suci Baru di Asmat. Di Sekolah Lapang Sagu, Gibran melihat langsung berbagai kegiatan pengembangan sagu yang dijalankan melalui pendekatan budaya dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Model pengembangan yang diterapkan di Sekolah Lapang Sagu Asmat dinilai memiliki karakteristik berbeda dibandingkan sekolah lapang sagu di daerah lain. Selain menjadi pusat pembelajaran, kawasan tersebut juga diarahkan sebagai ruang pelestarian budaya masyarakat adat sekaligus pengembangan ekonomi berbasis sagu.

Penanggung jawab Sekolah Lapang Sagu, Anton, menjelaskan bahwa program tersebut telah berjalan selama empat tahun dengan mengintegrasikan berbagai aspek pengembangan, mulai dari pelestarian sagu sebagai pangan lokal hingga peningkatan nilai tambah melalui produk olahan.

Menurut Anton, Indonesia saat ini memiliki tiga Sekolah Lapang Sagu yang dikembangkan dengan fokus berbeda sesuai karakteristik wilayah masing-masing.

"Dan ini berbeda dengan yang di Riau sama Sulawesi, karena di Indonesia ada 3 Sekolah Lapang Sagu," ujar Anton usai mendampingi Wapres meninjau kawasan tersebut.

Ia menjelaskan, Sekolah Lapang Sagu Asmat lebih menitikberatkan pada penguatan nilai-nilai lokal dan pemberdayaan masyarakat adat, berbeda dengan sekolah lapang di daerah lain yang lebih berorientasi pada pengembangan industri berskala besar.

Baca juga: Wapres Targetkan RSUD Asmat Naik Status Jadi Tipe C

"Yang di sini lebih ke memperkuat aspek lokal. Jadi, kalau yang di Meranti itu teknologi industri sagu untuk skala besar. Yang di sini skala lokal, Bapak Wapres. Jadi, di sini nanti lebih banyak pendekatan budaya. Sekaligus, di sini mengembangkan hilirisasinya," jelas Anton.

Saat ini kawasan Sekolah Lapang Sagu Asmat memiliki luas sekitar enam hektare. Pengelolaannya dilakukan melalui kerja sama antara Keuskupan Agats dengan Pemerintah Kabupaten Asmat sebagai bentuk sinergi dalam mengembangkan potensi sagu daerah.

Selain menjadi pusat pendidikan dan pelatihan, kawasan tersebut juga diproyeksikan sebagai lokasi pengembangan produk turunan sagu yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperluas peluang usaha berbasis komoditas lokal.

Anton mengatakan salah satu tantangan yang masih dihadapi dalam pengembangan kawasan adalah akses menuju lokasi. Menurutnya, dukungan infrastruktur akan menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan kawasan sekaligus mempermudah aktivitas pelatihan dan produksi.

Kunjungan Wakil Presiden ke Sekolah Lapang Sagu merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan penguatan pangan lokal sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.

Pemerintah menilai sagu memiliki posisi strategis, tidak hanya sebagai sumber pangan alternatif, tetapi juga sebagai komoditas unggulan yang dapat dikembangkan melalui program hilirisasi untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Di sisi lain, pengembangan sagu di Asmat juga dipandang sebagai upaya menjaga warisan budaya masyarakat adat yang selama turun-temurun menjadikan sagu sebagai bagian penting dari kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi.

Melalui penguatan hilirisasi serta pemberdayaan masyarakat lokal, pemerintah berharap potensi sagu Papua dapat berkembang menjadi sektor ekonomi yang berkelanjutan, mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional berbasis sumber daya lokal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU