Buah matoa yang menjadi salah satu flora endemik khas Papua (freepik)
PAPUA – Papua dikenal sebagai salah satu kawasan dengan kekayaan hayati terbesar di dunia. Selain menjadi habitat beragam satwa langka, wilayah paling timur Indonesia ini juga menyimpan ribuan jenis tumbuhan yang tidak ditemukan di tempat lain. Kekayaan flora tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat adat sekaligus penopang ekosistem yang menjaga keseimbangan alam Papua.
Di tengah hamparan hutan hujan tropis yang masih luas, berbagai tanaman endemik tumbuh subur dan memiliki nilai ekologis, ekonomi, serta budaya yang tinggi. Beberapa di antaranya bahkan telah menjadi identitas Papua yang dikenal hingga ke mancanegara, seperti sagu, matoa, dan anggrek raksasa.
Keberadaan flora endemik ini menunjukkan betapa Papua memiliki peran penting dalam menjaga kekayaan biodiversitas Indonesia. Para peneliti menyebut Pulau Papua sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia karena memiliki ribuan spesies tumbuhan yang sebagian besar bersifat endemik atau hanya ditemukan di wilayah tersebut.
Salah satu tanaman yang paling melekat dengan kehidupan masyarakat Papua adalah sagu (Metroxylon sagu). Tanaman yang tumbuh di kawasan rawa dan dataran rendah ini telah menjadi sumber pangan utama masyarakat selama ratusan tahun. Pati yang dihasilkan dari batang sagu diolah menjadi papeda, makanan khas Papua yang menjadi bagian penting dari budaya lokal.
Baca juga: 60 Ucapan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah 2026 Penuh Makna, Doa, dan Harapan
Selain sebagai sumber pangan, sagu juga memiliki manfaat lain bagi masyarakat. Daun dan pelepahnya sering dimanfaatkan sebagai bahan bangunan tradisional untuk atap maupun dinding rumah. Tak hanya itu, keberadaan hutan sagu turut berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan karena mampu menyerap air dan membantu mencegah erosi di kawasan rawa.
Indonesia sendiri tercatat memiliki lebih dari 90 persen hutan sagu dunia, dan sebagian besar berada di Papua serta Papua Barat. Kondisi ini menjadikan Papua sebagai wilayah strategis dalam menjaga keberlanjutan salah satu sumber pangan lokal terbesar di dunia.
Tak kalah menarik adalah matoa (Pometia pinnata), buah khas Papua yang memiliki cita rasa manis dan tekstur menyerupai perpaduan rambutan serta kelengkeng. Buah tropis ini hanya berbuah pada musim tertentu dan menjadi salah satu komoditas yang banyak diminati masyarakat.
Matoa tidak hanya dikenal karena rasanya yang khas, tetapi juga karena kandungan nutrisinya. Buah ini mengandung senyawa polifenol yang dipercaya memiliki berbagai manfaat kesehatan, mulai dari membantu menjaga kesehatan jantung, mendukung sistem pencernaan, hingga berperan sebagai antioksidan alami bagi tubuh.
Bagi masyarakat Papua, pohon matoa juga memiliki nilai ekonomi tambahan. Kayunya yang ringan sering dimanfaatkan sebagai bahan bangunan tradisional maupun kebutuhan rumah tangga. Namun, keberadaan matoa di alam liar kini menghadapi tantangan karena sebagian besar masih tumbuh secara alami tanpa budidaya yang terencana.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan kelestarian matoa di masa depan. Para pemerhati lingkungan menilai perlu adanya pengembangan budidaya dan konservasi agar tanaman khas Papua tersebut tetap lestari dan dapat terus dimanfaatkan oleh generasi mendatang.
Baca juga: Jangan Sampai Keliru, Ini Jadwal Puasa Asyura 2026
Selain sagu dan matoa, Papua juga memiliki anggrek raksasa (Grammatophyllum speciosum), salah satu jenis anggrek terbesar di dunia. Tanaman ini mampu tumbuh hingga mencapai beberapa meter dan menghasilkan bunga berwarna kuning dengan corak cokelat yang mencolok.
Anggrek raksasa umumnya hidup menempel pada pohon-pohon besar di hutan tropis. Keindahannya menjadikan tanaman ini sebagai daya tarik bagi para pecinta flora dari berbagai negara sekaligus simbol kekayaan alam Papua yang unik dan eksotis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: