PAPUA - Di balik tampilannya yang sederhana, jenang sengkolo lima warna menyimpan filosofi mendalam yang telah diwariskan turun-temurun dalam budaya Jawa. Hidangan tradisional ini bukan sekadar sajian kuliner, melainkan bagian dari ritual spiritual yang sarat makna.
Masyarakat Jawa mengenal jenang sengkolo sebagai simbol doa keselamatan dan penolak bala. Kehadirannya sering ditemukan dalam berbagai tradisi adat, syukuran, hingga ritual yang bertujuan memohon perlindungan dari berbagai kesulitan hidup.
Jenang sengkolo biasanya disajikan dalam jumlah warna ganjil, seperti tiga, lima, atau tujuh warna. Angka ganjil dipercaya melambangkan kesempurnaan harapan dan keseimbangan dalam kehidupan manusia.
Di antara berbagai variasi tersebut, jenang sengkolo lima warna menjadi salah satu yang paling kaya akan simbolisme. Setiap warna memiliki makna tersendiri yang saling melengkapi dalam satu kesatuan doa.
Warna merah atau abang menjadi unsur pertama yang paling menonjol. Warna ini berasal dari gula merah dan melambangkan keberanian, semangat hidup, serta unsur penciptaan manusia yang dikaitkan dengan darah dari pihak ibu.
Selain melambangkan kekuatan, warna merah juga dimaknai sebagai permohonan agar manusia dijauhkan dari berbagai sifat buruk, keserakahan, serta mara bahaya yang dapat mengganggu kehidupan.
Baca juga: Papua Kini Terbagi Enam Provinsi, Ternyata Jumlah Kabupaten Dan Kotanya Mencapai Angka Ini
Warna putih menjadi simbol kesucian dan ketulusan. Dalam filosofi Jawa, warna ini menggambarkan unsur benih kehidupan dari pihak ayah sekaligus harapan akan keberkahan dan kebaikan dalam menjalani kehidupan.
Jenang berwarna hitam atau hijau memiliki makna sebagai penyeimbang dan pelindung. Warna gelap dalam tradisi spiritual Jawa sering dikaitkan dengan unsur bumi yang berfungsi menangkal energi negatif dan berbagai gangguan yang tidak diinginkan.
Sementara itu, warna kuning melambangkan anugerah, kemakmuran, serta pencerahan hidup. Kehadirannya menjadi simbol harapan agar seseorang diberikan jalan yang baik dan terhindar dari berbagai kesulitan.
Baca juga: Deretan Kafe Live Music Ini Jadi Favorit Anak Muda Dan Wisatawan Papua
Warna terakhir, yaitu cokelat atau warna kombinasi, merepresentasikan ketenangan, kesabaran, dan keharmonisan dengan alam semesta. Filosofi ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan dalam setiap aspek kehidupan.
Ketika kelima warna tersebut disatukan dalam satu sajian, masyarakat Jawa memaknainya sebagai simbol keselarasan antara manusia, alam, leluhur, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: